Friday, October 11, 2013

Sistem kepercayaan masyarakat prasejarah

Mereka yakin bahwa ada ruh-ruh yang melekat pada setiap benda-benda alam seperti batu-batu besar, pohon, danau, langit, bulan dan matahari atau bahkan dalam diri binatang dan manusia. Ruh-ruh itu juga bisa mempengaruhi jiwa manusia, baik pengaruh baik maupun pengaruh buruk. Agar ruh-ruh tersebut tidak menyebabkan kerugian bagi manusia, mereka perlu dipuaskan dengan memberinya berbagai macam makanan atau sesajen dalam upacara-upacara ritual. Dengan cara itu diharapkan ruh-ruh tersebut tidak mengganggu manusia.
Mereka berharap agar tanah tetap subur dan panen melimpah, yang sakit bisa sembuh kembali, serta seluruh penduduk bisa hidup tenteram. Keyakinan terhadap adanya ruh yang tidak terlihat itu disebut animisme. Adapun keyakinan bahwa ruh-ruh tersebut bisa berwujud dalam bentuk benda-benda disebut dinamisme. Namun demikian, konsep animisme dan dinamisme pada dasarnya sama, yaitu adanya kepercayaan terhadap ruh-ruh.
Masyarakat prasejarah juga percaya pada ruh-ruh nenek moyang mereka. Arwah atau ruh-ruh kelompok atau kepala suku yang telah meninggal terus dipelihara agar terus hidup. Agar arwah nenek moyang mereka tersebut tetap berbuat kebaikan, seperti ketika masih hidup, maka perlu diadakan upacara-upacara atau pemujaan. Makamnya pun harus dipelihara dengan baik.
Berdasarkan temuan-temuan arkeologis diketahui bahwa peradaban megalithikum lebih banyak berkaitan dengan tradisi pemujaan terhadap ruh-ruh dan arwah-arwah nenek moyang. Bangunan-bangunan seperti menhir, dolmen, sarkofagus, kubur batu, arca batu, serta punden berundak-undak adalah bentuk fisik dari kepercayaan animisme dan dinamisme pada zaman prasejarah.

Kepercayaan terhadap animisme berlangsung terus dan mengalami proses evolusi yang panjang. Sampai sekarang di beberapa suku bangsa Indonesia kepercayaan tersebut masih ada walaupun dalam bentuk yang berbeda-beda. Upacara-upacara tersebut biasanya dilakukan oleh seseorang yang memiliki keahlian menghubungkan dunia nyata dengan ruh-ruh. Orang-orang yang memiliki keahlian seperti itu biasa disebut kuncen atau dukun. Bahkan, masih banyak anggota masyarakat modern yang tinggal di kota-kota besar percaya pada benda yang dimilikinya, misalnya batu ali (cincin) yang akan membawa berkah, lokasi rumah yang memiliki kekuatan magis, dan sebagainya.

Perubahan Sistem Pengolahan Makanan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perubahan dari masyarakat nomaden danfood gathering ke masyarakat bercocok tanam atau tradisi food producing berjalan secara evolusioner. Evolusi tersebut dipengaruhi oleh waktu yang panjang, perubahan dalam kemampuan pikir serta berbagai tantangan alam yang dihadapi. Dilihat dari cara pandang sekarang, evolusi terjadi dari kondisi terbelakang ke kondisi yang lebih maju. Masyarakat food producing lebih maju dibandingkan dengan masyarakat food gathering; masyarakat yang bertempat tinggal tetap lebih maju daripada masyarakat nomaden. Masyarakat yang disebutkan pertama lebih memungkinkan perkernbangan peradaban yang lebih maju.

No comments:

Post a Comment